Jumat, 10 Mei 2013
Wanita itu.....................................
Kaum feminis bilang susah jadi wanita, lihat saja peraturan dibawah ini:
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapitidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat padaisterinya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yangtak Ada padalelaki.
Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk "MEMERDEKAKANWANITA".
Pernahkah Kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?
1. Benda yang Mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempatyang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserakbukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.
2.Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taatkepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?
3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukahharta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya,sementara apabila lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakanhartanya untuk isteri dan anak-anak.
4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak,tetapi tahukahbahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruhmakhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia meninggal dunia karenamelahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggung- jawabkan terhadap! 4wanita, yaitu: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 oranglelaki,yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang manasaja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu: shalat 5 waktu, puasadi bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.
7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jikataat akan suaminya, serta menunaikan tanggung-jawabnya kepada ALLAH, maka iaakan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihadfisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.
Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita Ingat firman Nya, bahwamereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai Kita ikut / tundukkepada cara-cara / peraturan Buatan mereka. (emansipasi Ala western)
Yakinlah, bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan Kita, makasudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala Hukumnya /peraturannya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segalaperaturan/hukum buatan manusia.
Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimanaRasulullah pernah mengajarkan agar Kita (kaum lelaki) Berbuat baik selalu(gently) terhadap isterimu.
Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anakperempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah Yang baik, makasurga adalah jaminannya. (untuk anak laki2 berlaku kaidah yang berbeda).
Berbahagialah wahai para muslimah.Jangan risau hanya untuk apresiasi absurddan semu di dunia ini. Tunaikan dan tegakkan kewajiban agamamu, niscaya surgamenantimu.
kelemahan: Wanita selalu lupa betapa berharganya dirinya.
APAKAH KITA
SERING “MUT-MUT-AN?”
Keunikan Mood Rasa-rasanya sudah biasa kita menggunakan
istilah
mood. Umumnya, istilah mood itu
kita pahami sebagai
suasana batin
tertentu, bisa bad dan bisa good. Kalau melihat
ke
pendapat ahli, seperti
yang dikutip Wikipedia misalnya, mood adalah keadaan emosi
(state of emotion)
yang berlangsung secara relatif, yang sebab-sebabnya seringkali
subyektif atau tidak jelas. Jika seseorang merasa takut,
itu ada sebabnya, entah faktual atau perceptual (sebab-sebab yang dipersepsikan seseorang).
Sama juga kalau seseorang merasa gembira. Kegembiraan muncul
karena sebab-sebab tertentu. Tapi untuk mood, sebabnya seringkali tidak jelas
atau stimulusnya
kerap
kurang faktual. Misalnya saja, kita
tahu-tahu
merasa bad mood saat mau berangkat ke kantor.
Penjelasan yang mirip sama juga bisa kita dapatkan dari bukunya
Philip G. Zimbardo
(Psychology and Life: 1979) tentang mood. Mood
adalah keadaan emosi tertentu yang tidak
masuk dalam kategori state (emosi yang dipicu oleh faktor
eksternal
tertentu) atau trait (bentuk emosi
yang
menjadi bawaan seseorang). Perubahan mood bisa berlangsung dalam ukuran jam atau hari. Bagi sebagian orang, perubahan mood kerap mempengaruhi gairahnya untuk
melakukan sesuatu atau bahkan bisa
mempengaruhi
keputusan dan tindakannya. Sejauh pengaruh
itu
tidak menyangkut
ke urusan yang penting dan sangat menentukan, mungkin masih bisa kita bilang biasa. Namanya juga orang hidup. Alam saja punya
musim dan cuaca.
Tapi, bila itu sudah merembet ke urusan yang sangat penting, maka
sulit rasanya untuk mengatakan itu biasa. Misalnya kita sedang menekuni keahlian
tertentu. Jika gairah kita lebih
sering dikendalikan oleh perubahan mood,
mungkin akan sangat pelan kemajuan yang bisa kita raih, yang mestinya bisa kita raih lebih cepat,
jika seandainya kita tidak mut-mutan (moody). Lebih-lebih jika perubahan mood itu sering kita alami sudah
menyangkut ke urusan dengan orang lain atau organisasi. Misalnya kita
tiba-tiba membatalkan janji dengan mitra gara-gara mood. Kita mengubah
haluan yang sudah disepakati orang banyak gara-gara mood; atau kita mengambil
keputusan penting yang menyangkut keluarga karena soal
mood. Gampangnya ngomong,
kita sudah menjadi
orang yang mut-mutan sehingga sulit dipegang. Mood Disorder Di dalam kajian Psikologi, ada istilah yang akrab disebut mood disorder atau perubahan mood yang sudah tidak sehat lagi atau kacau. Dr. C. George Boeree,
dari Shippensburg
University (Mood Disorder: 2003), menjelaskan bahwa Mood
Disorder itu
merupakan sisi ekstrim yang sudah tidak sehat (patologis) dari perubahan mood tertentu,
misalnya terlalu girang atau terlalu malang (sadness and elation). Definisi di atas rasa-rasanya sudah
cukup untuk
kita jadikan
sebagai acuan perbaikan diri. Lain soal kalau kita ingin menggunakannya
untuk presentasi
tugas-tugas akademik yang menuntut sekian teori, perspektif, dan analisis data atau fakta.
Untuk kepentingan perbaikan diri, pengaruh perubahan mood yang
perlu kita deteksi itu antara lain adalah:
bisa dibilang sangat membahayakan, misalnya ugal-ugalan saat berkendaraan di jalan raya atau membanting barang-barang yang berguna buat
kita hingga fatal?
fungsi kita dengan sekian tanggung jawab yang harus kita jalankan hingga kita menjadi orang yang “EGP” (Emang Gue Pikiran) terhadap
tugas-tugas kantor, tanggung jawab profesi, atau tugas sebagai
orangtua?
rusaknya hubungan kita dengan
orang lain
gara-gara misalnya banyak
janji yang tidak kita tepati, banyak missed call atau SMS yang
tidak kita jawab, dan lain-lain?
Sekian jawaban yang bisa kita gali dari pertanyaan di atas memang
masih belum tentu bisa disebut Mood Disorder secara teori keilmuannya.
Hanya saja,
dengan menggunakan akal sehat,
pasti kita sudah bisa
menyimpulkan bahwa perubahan mood yang sudah menimbulkan bahaya
dan
kerusakan, tentu bukan lagi urusan yang biasa atau normal.
Gaya Hidup Depresif
Apa yang pertama-tama perlu kita telaah ketika perubahan
mood
yang kita alami itu sudah berdampak pada hal-hal
buruk seperti
di atas? Salah
satu
yang
terpenting
adalah
gaya hidup,
kebiasaan,
atau tradisi, dalam arti
prilaku yang berulang-ulang kita lakukan secara hampir tidak kita sadari sepenuhnya. Pertanyaannya, gaya hidup seperti
apa? Gaya hidup yang bisa menjelaskan munculnya mood secara kebablasan
(patologis) adalah gaya hidup
depresif.
Seperti sudah sering kita baca di
sini, depresi itu adalah stress yang berlanjut atau gagal
kita tangani
secara
positif.
Dalam prakteknya, depresi itu ada yang sifatnya respondent dan ada yang sifatnya sudah menjadi tradisi yang berlangsung lama.
Depresi yang sifatnya
respondent umumnya dipicu oleh kejadian eksternal yang kita rasakan stressful,
seperti
misalnya ada tragedi diri yang membuat kita harus hengkang dari kantor atau perusahaan yang selama ini
kita besarkan, perceraian yang diawali peristiwa yang menyakitkan, atau
kematian yang
tidak normalnya menimpa orang tersayang,
dan
berbagai peristiwa lain yang sulit kita terima secara langsung. Jika acuannya praktek hidup,
depresi
yang respondent umumnya diketahui
sebab-sebabnya atau
kronologisnya. Ini
agak beda dengan depresi yang
sudah
menjadi gaya
hidup. Mungkin
ada pemicunya, tetapi pemicu
itu
tidak
kita sadari sehingga menggunung dan
berlahan-lahan
membuat kita merasa dikelilingi
oleh berbagai beban, tekanan, dan ancaman.
Menurunnya energi untuk
melakukan sesuatu, bad mood.
Sulit berpikir atau berkonsentrasi
sehingga membuat kita lupa atau
tidak menyadari tanggung jawab, dari
mulai
yang sepele,
katakanlah seperti lupa membayar makanan yang kita ambil, dan semisalnya
1. Inginnya tidur terus atau
sulit tidur, ingin makan
terus
atau sulit
makan
2. Tidak care lagi terhadap urusan penampilan, misalnya acak-acakan
Sulit mengambil keputusan atau cepat berubah-ubah keputusannya
(tidak bisa dipegang)
3. Mengalami kelambanan psikomotorik, seperti ngomongnya
sepenggal-sepengal, lamban meresponi sesuatu, atau males ngomong
4. Berpikir secara tidak
sehat
mengenai kematian
Membebaskan Diri
Dari Depresi Di literaturnya, memang banyak pernyataan ahli
yang mengingatkan agar
kita tidak cepat berkesimpulan
bahwa perubahaan
mood yang sudah menciptakan gangguan itu murni
karena depresi. Untuk mengetahui sebab-sebab yang spesifik, diperlukan
pendalaman oleh tenaga ahli. Dan itu umumnya butuh waktu. Tapi,
hampir semua sepakat bahwa depresi dapat membuat seseorang lebih sering dikendalikan oleh suasana batin dalam mengambil
keputusan sehingga
layak bisa dibilang mut-mutan. Karena batin kita sedang depresif, maka
keputusan kita pun mencerminkan gejala-gejala depresi seperti di atas.
Misalnya tidak konsentratif, tidak bergairah untuk bertanggung jawab, dan
seterusnya.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan agar depresi itu tak sampai membuahkan kebiasaan moody? Akan dibilang sombong jika kita berpikir
sanggup mengantisipasi peristiwa depresif seratus persen. Banyak peristiwa menyakitkan yang tak sanggup diantisipasi oleh manusia atau oleh negara sekali
pun, misalnya bencana. Ada bencana yang karena ulah manusia,
tetapi ada yang karena sudah maktub (tertulis). Karena itu, selain memang perlu mengantisipasi,
kita pun perlu melakukan mekanisasi (menciptakan
mekanisme pertahanan-diri) untuk menghadapi peristiwa yang sudah tak bisa diantisipasi. Mekanisme ini dapat kita kelompokkan menjadi dua, yaitu:
1. Mekanisme
eksternal
2. Mekanisme
internal
Katakanlah kita kini merasakan situasi
kantor
atau rumah tangga
yang benar-benar
depresif dan sebab-sebabnya sudah ruwet,
seperti
benang kusut. Mekanisme eksternal yang
bisa kita lakukan
antara lain: mengatur (to manage), mengubah,
memperbaiki,
atau
pindah ke situasi
baru. Tapi ini
men-syaratkan kemampuan, kemantapan, dan tangggung
jawab. Jika itu belum sanggup kita jalankan, maka yang bisa kita lakukan adalah menciptakan mekanisme internal. Jumlah dan bentuk mekanisme
internal yang diciptakan Tuhan untuk mempertahankan hidup itu sangat tak terbatas, dari mulai menciptakan interpretasi baru,
opini
baru,
definisi
baru, makna baru, refleksi baru, sikap baru dan seterusnya.
Mekanisme internal itu
intinya adalah upaya kita menciptakan
pikiran, perasaan, dan keyakinan yang membuat kita menjadi lebih kuat dan lebih
tercerahkan. Mekanisme internal ini bahkan lebih berperan ketimbang
mekanisme
eksternal dalam mengkondisikan
seseorang menjadi
depresi
atau
tidak. Dalam prakteknya,
belum tentu orang yang di penjara itu lebih depresif
ketimbang orang yang bebas. Belum tentu orang
yang namanya dan
gambarnya dijadikan sasaran tudingan
dan
hinaan di
media atau demo itu lebih depresif. Bisa ya dan bisa tidak, atau bahkan
malah bisa semakin matang, tergantung
mekanisme internalnya.
Yang perlu
kita jauhi bersama adalah, sudah kita belum mampu menciptakan mekanism eksternal (karena berbagai cost),
menciptakan mekanisme internal yang gratis pun tidak kita ciptakan. Atau malah
membangun
mekanisme internal yang semakin men-depresi-kan
diri sendiri hingga membuat kualitas keputusan hidup kita menurun drastis
atau
mut-mutan melulu.
Memang, mekanisme internal itu muncul dari sekian dukungan,
mungkin nilai, ilmu,
informasi, dan yang terpenting lagi
adalah latihan (proses dan prosesi).
Semua dukungan itu hanya akan
kita dapatkan setelah
ada
pondasi yang
kuat, yaitu:
1. Munculnya dorongan untuk
berubah ke arah yang lebih baik
2. Menyadari adanya kebutuhan untuk berubah.
Jika dua hal ini
tidak ada, mungkin semua pintu akan tertutup. Dari laporan
penelitian beberapa ahli diakui bahwa yang membuat orang tak kunjung bisa menguasai mood-nya
adalah karena orang itu tidak menyadari adanya kebutuhan untuk mengubah dirinya. Bahkan mungkin merasa itulah
yang
benar.
Berpikir Hidup Ini Hanya Sekali Tidak semua perubahan hidup
yang kita nilai sangat fundamental
itu harus dimulai
dari pemikiran yang canggih,
pintar, dan kompleks. Itulah hebatnya keadilan Tuhan. Adakalnya
bisa dimulai dari pemikiran yang sederhana, yang tidak hanya diketahui
oleh para profesor, dan mungkin salah. Contohnya adalah berpikir “Hidup
ini hanya sekali”. Untuk kita, ini salah karena hidup itu dua kali, tidak ada kalimat yang canggih di situ, dan tak ada teori yang melatarbelakanginya. Tapi, jika kita berhasil menggunakannya untuk mengantisipasi munculnya
gaya hidup yang depresif, hasilnya akan canggih. Dengan berpikir seperti itu,
kita akan
segera sadar,
untuk apa
kita membiarkan diri
larut
dan hanyut ke
dalam
gaya hidup
yang
depresif,
wong hidup
hanya seperti mampir ngombe (numpang minum) saja? Kenapa nggak kita nikmati saja hidup yang hanya sekali ini dengan sekian mekanisme yang bisa kita buat?
“Gitu aja kok repot?”, mengenang ucapan Gus Dur semasa masih hidup.
Semoga bermanfaat.
Langganan:
Komentar (Atom)